ki hajar dewantara

Kebijaksanaan Ki Hajar Dewantara, Sang Bapak Pendidikan Indonesia

Ki Hajar Dewantara dikenal dengan gagasan-gagasan pendidikannya. Lahir di Pakualaman sebagai keluarga ningrat pada 2 Mei 1889. Suami dari Nyi Sutartinah ini dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan bijaksana.

Lahir dari keluarga ningrat tidak membuatnya besar kepala dan semena-mena. Justru putra dari Gusti Pangeran Harya Soerjaningrat ini terkenal dengan kesederhanaannya. Beliau tidak pernah membeda bedakan seseorang dari derajat ekonominya.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, membuat beliau berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, Europeesche Lagere School (ELS). Setelah lulus Soewardi melanjutkan pendidikannya ke sekolah dokter Bumiputera, STOVIA. Namun, sayangnya Soewardi tidak dapat menyelesaikan pendidikannya karena jatuh sakit.

Walaupun tidak bisa melanjutkan pendidikan kedokterannya, Ia bersama dengan Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij pada tahun 1912.

Indische Partij merupakan partai politik pertama di Hindia Belanda yang berisi orang-orang Indonesia dan Eropa yang ada di Indonesia.

Bergulat di dunia perpolitikan tidak membuat ayah dari Bambang Sokawati Dewantara ini melupakan keluarganya. Momen bersama anak-anaknya ini diabadikan dalam buku yang ditulis oleh anak laki-lakinya tersebut.

Ki Hajar Dewantara Bersama Orang Gila

Menikmati hidup sebagai seorang kakek, membuatnya menularkan ilmu yang dimiliki kepada sang cucu. Pelajaran tersebut salah satunya diterapkan saat cucu dari Bapak Pendidikan ini melihat orang gila membawa pentungan sambil mengejar-ngajar angsa dan ayam kalkun di halaman rumah.

Melihat cucunya ketakutan, Ki Hajar mendekati orang gila tersebut dan mengajaknya berbicara sambil mengalihkan perhatiannya supaya pentungan yang dipegangnya perlahan turun. Cara ini berhasil membuat orang gila itu menjatuhkan pentungannya dan pergi dari halaman rumah Ki Hajar.

Kemudian sang cucu pun bertanya apa yang telah dilakukan sang kakek hingga membuat orang gila itu pergi. Ki Hajar pun memberikan jawaban Suro Diro Jayaningrat lebur Dening Pangastuti. Kata ini  merupakan tuntunan bagi pemimpin ketika menghadapi suatu masalah.

Makna dari perkataan yang di ucapkan Ki Hajar ialah, Semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia, akan dapat dihilangkan dengan sifat-sifat lemah lembut, kasih sayang dan kebaikan.

Kesederhanaan Menteri Pengajaran Indonesia Pertama

Ki Hajar diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia Pertama pada tahun 1945. Sosoknya yang pintar dan bijaksana dalam dunia pendidikan membuat Ir. Soekarno memilihnya sebagai Menteri Pengajaran Indonesia atau saat ini bernama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendiri Taman Siswa ini juga melepas gelarnya sebagai keturunan ningrat dengan mengganti namanya pada tahun 1922. Bukan hanya dirinya semua yang berkontribusi di Taman Siswa wajib melepaskan gelarnya. Hal ini dilakukan karena Ki Hajar ingin dekat dengan siswa-siswinya tanpa ada jarak perbedaan status keluarga.

Ki hajar sangat sederhana dalam menjalani kehidupannya. Bahkan perabotan yang ada di rumahnya pun didapatkan dari perabotan lama yang dijual oleh orang Belanda yang ingin pulang ke Belanda. Setiap kali ada orang Belanda yang hendak pulang kampung, keluarga Ki Hajar selalu membeli barang-barang yang masih layak pakai dengan harga murah.

Tidak sampai pada perabotan rumah. Ki Hajar juga menghibahkan rumahnya yang dibeli dari seorang janda untuk dijadikan Museum Dewantara Kirti Griya (DKG).  Kemudian beliau bersama keluarganya  pindah ke rumah yang lebih luas untuk dibuatnya pendopo, dan sekolah Taman Siswa.

Namun sepeninggalan Ki Hajar, tahun 1959 dan istrinya yang menyusul pada tahun 1971. Taman Siswa tidak kelola oleh keturunan Ki Hajar sebagaimana pintanya sebelum meninggal. Bahkan Ki Hajar berpesan untuk tidak mengabadikan namanya menjadi sebuah bangunan maupun nama jalan. Beliau khawatir seseorang akan mengultuskan namanya demi kepentingannya sendiri.

Kesederhanaan Ki Hajar terpancar kembali saat mengadakan pesta bersama keluarganya dengan maksud merayakan pengukuhan dirinya sebagai menteri. Apabila biasanya keluarga kerajaan memilih mengadakan pesta dengan makan-makanan yang mewah, namun berbeda dengan keluarga bangsawan satu ini. Mereka memilih untuk makan mie ghodok khas Yogyakarta untuk sajian pestanya. Pahlawan Nasional ke-2 yang diresmikan oleh Ir. Soekarno ini menjadi panutan bagi dunia pendidikan. Baik dari cara berpikirnya, maupun sikap dan perilakunya. Satu lagi semboyan Ki Hajar Dewantara yang mahsyur terdengar Ing Ngarsa Sung Taulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani yang di depan memberi tauladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Sarjana Sastra, suka menulis artikel seputar wisata, senang berolahraga, bermain sepak bola, orangnya simpel dan percaya diri.